
Buku kedua TTM ini tebalnya ga jauh beda dengan buku pertama, sekitar 206 halaman. Masih diterbitkan oleh Elex media, plus bonus cd berisi 6 track lagu-lagu mereka yang ada juga di channel youtube #temantapimenikah dan beberapa (lebih banyak) foto-foto monokromnya Ditto, Ayu dan Sekala, si bayi kacang. Anyway, Selama bolak balik baca buku ini, saya ga nemu alasannya kenapa Sekala ini dipanggil gitu. Kali aja kalau ada road show film TTM 2 ke Bandung terus saya beruntung ikutan preskon atau Meet and Greetnya bisa nanya sama mereka, langsung.
Di buku bersampul hijau ini,
alur cerita yang disampaikan lebih mengalir, renyah dengan gaya bahasa
masing-masing. Yes, antara Ditto dan Ayu gantian bercerita seperti curhat
gitu. Semisal pas kerempongan acara lamaran, Ditto punya ceritanya sendiri, dan
Ayu pun begitu sampai drama-drama yang juga dialami setelah Sekala hadir.
Walau namanya udah saling kenal
belasan tahun, tetep aja yang namanya nervous mah suka ikutan nimbrung ketika
lamaran dan menikah. Kalau Ditto malah jadi grogi, Ayu malah bisa cengegesan,
ketawa-ketiwi. Lucunya mereka nih, saat menjelang acara nikah di mana
pengantinnya dipingit, mereka malah masih bisa keluyuran dan hang
out malam-malam. Tapi kalau udah baca dan ngikutin perjalanan
mereka di buku sebelumnya ya, no wonder, lah. Emang mereka pasangan yang
unik. Hmmm. jadi saya ga nyesel tetep jabanin buku pertamanya
hehehehe....
Yang bikin awkward itu
momen pas Ditto ngelamar Ayu. Sebenarnya ini udah dibahas dikit di buku
sebelumnya. Tapi mungkin konyol dan segitu memorablenya,
keduanya membahas lagi di buku berikutnya. Berkat kegrogian Ditto, momen
yang mestinya romantis, mendadak failed karena Ditto salah
membuka kotak cincin dan makin ga romantis karena Ditto melakukannya dengan
lempeng. But anyway, You made our day, To. Saya ngikik bayangin scene ini
kalau ada di film nanti, kocak!
Setelah menikah, tadinya mereka
berdua menunda kehamilan. Mau pacaran dulu, katanya. Tapi Allah punya rencana lain.
Tiba-tiba aja Ayu hamil sebelum mereka merasa siap. Maka, hal-hal yang
tidak terprediksi pun terjadi. Yang bikin keduanya jadi rempong adalah
mental yang belum well prepared. Drama moody swing yang
dialami Ayu kerap membuat keduanya lebih sering mengalami ribut-ribut kecil.
Iya, walau mereka itu tampak seperti couple panutan,
ribut-ribut mah ada aja. Saat tau Ayu hamil pun bukannya girang, mereka
malah sampai berkali-kali beli testpack. Kali-kali aja hasilnya
beda. Tapi tetep aja, hasil dua garis yang muncul mengubah hari-hari
mereka jadi lebih... emmmm saya bilang berwarna. Ga flat, karena makin banyak
ribut-ributnya itu tadi.
Gue
takut, gue bingung, tapi gue seneng. Terus gue harus gimana? Masa
tiba-tiba udah mau jadi bapak aja? "Nggak Mungkin lah, Cha. Masa,
sih?" - halaman 81
Yaelah, To. Katanya seneng bisa bikin hamil temen sendiri
*setelah halal pastinya* Tapi kok bingung?
Once
again, seperti juga dibilang di buku
pertamanya, letupan-letupan kecil yang terjadi segera diselesaikan segera.
Cuma memang perubahan suasana hati pas Ayu lagi hamil ini level dramanya naik
beberapa strip. Mulai dari Ayu yang ga mau ditinggal Ditto, drama
lempar hp ke tengah teman-temannya Ditto sampai Ayu yang maksa ikut ke bandara
di last minute.
Gitu
aja? Masih ada drama lainnya yang mengikuti ketika Ditto dan teman-temannya
manggung. Ayu yang biasanya sellau nonton performnay Ditto cs malah milih
diem di kamar. Ngeselin emang nih, Ayu hahaha.... *maafkan komentar
jujurku, ya, Yu*
Kalau dekat suka debat, kalau jauh malah merindu
Tapi emang gitu kali, ya. Ada
kalanya seseorang jadi manglingi, berubah menjadi sosok yang ga biasanya
kita kenal, Dan sialnya perubahan itu malah perubahan yang ngehe.Kalau Ditto
harus banyak-banyakin stok kesabaran menghadapi istrinya, Ayu malah sempat
kepikiran untuk menggugurkan kandungannya. Haduh, segitunya yang stres?
Padahal apa sih, yang kurang dari mereka? Secara materi mereka
sudah mapan, bahkan untuk semua persiapan pernikahan sampai rumah pun
mereka ga minta sama ortu. Dua-duanya saling kenal setelah belasan tahun
berteman dan nikah pun bukan dijorokin teman. Sama-sama mau.
Ngomong-ngomong soal kehamilan
dan mood swing, mungkin juga opini dokter yang mereka jumpai punya andil
dalam perubahan sifat Ayu. Penjelasan dokter yang ngasih sinyal kalau Ayu
ga bisa melahirkan secara normal membuat Ayu makin ketakutan.
"Ntar kalau bayinya udah gede ngeluarinnya
gimana? Bakal susah banget nggak, sih? Sakit banget ga, sih?
Aku perlu operasi nggak, ya?" - halaman 93
Apa yang Ayu pikirin sering
terlintas dalam pikiran saya saban melihat atau ketemu bumil. One day,
if if i were like her, how it's gonna be? Duh beneran saya
suka kepikiran ini dan buru-buru ditepis. What ever will be, will be.
Gitu, aja. Jangan risaukan dulu yang belum terjadi. Biar ga
stress:)
Dan bener ya, kalau yang
namanya dokter itu cocok-cocokan nya bukan soal obat yang
diresepkan atau gimana jam terbangnya dia. Buat saya sih, gimana dokter
ini bisa bikin nyaman pasiennya. Daripada stres dan parno karena penjelasan
dokter yang terasa intimidatif, mereka akhirnya pindah dokter.
Lalu kejutan lain pun
muncul. Ditto dan Ayu memutuskan untuk memilih Bali sebagai tempat
melahirkan. Bali memang sudah seperti rumah kedua bagi mereka. Ayu yang sering
menjadikan Bali sebagai pelariannya di kala membutuhkan healing, lamaran Ditto
juga dilakukan di Bali, lalu untuk menandai kehadiran junior pertamanya pun
Bali jadi pilihannya. Bukan cuma itu saja, sih. Mereka juga punya alasan lain
kenapa harus jauh-jauh ke Bali. Pilihan yang juga bikin kesel kedua orangtua
mereka.
Kalau di awal-awal cerita
saya ikutan ketawa waktu Ayu bilang cuma mau sayang sama Dito 80% aja,
atau kesel karena mengamati dramanya Ayu di saat hamil, pas lahiran ini beberapa
lembar cerita di buku malah bikin saya terharu. Sialnya saya salah milih momen.
Di part ini saya bacanya lagi pas di bus. Risih kalau tiba-tiba mewek, mana
busnya lagi penuh. Tapi syukurlah drama sedihnya bentaran, aja.
Selanjutnya saya dibuat ngikik lagi pas keduanya diomelin bidan karena
ninggalin bayi. Bikin saya mikir, ada ya, yang kayak gitu?
hahaha...
Pernah
denger kan omongan kayak gini?
Sifat aslinya seseorang itu bakal keliatan kalau udah
menikah. Bakal beda sama waktu masih pacaran.
Soal ini Ditto punya pandangan
lain. Menurutnya bukan beda, tapi jadi makin tau aja sifat-sifat
jeleknya. Padahal mereka berdua ini kan, ga ada jaim-jaimnya selama
belasan tahun udah saling kenal. Tapi manusia emang unik, ada aja sifat atau
hal-hal yang baru yang bakal kita temui dari seseorang. Mending kalau
ketemunya selewat, ga tiap hari. Lah, ini gimana? Tinggal satu atap, tiap hari
ketemu terus? Tapi komunikasi jadi kuncinya buat mereka bertahan. Kalau
Ditto memandang soal ini lebih bijak, Ayu mah tetep aja gokil. Marah jadi salah
satu caranya menyeimbangkan rasa lelah yang dialami. Perempuan
banget, ya? Saya ngikik. Contek jangan, ya? :D Lucky her, punya
Ditto yang sumbunya ga pendek. IMHO, dari awal emang Ditto yang
lebih cinta dari Ayu, sih.
Mudah-mudahan eksekusi adaptasi
buku ini ke layar lebar ga bikin kecewa pembaca buku dan subscriber youtubenya
yang udah seperempat juta itu. Amazing, ya? Tapi seperti yang udah-udah, Falcon
Pictures, PH yang menggarap film ini dan pastinya sutradaranya, punya strategi
untuk itu. Let's see.
Sumber : https://www.resensiefi.my.id/2018/02/novel-teman-tapi-menikah-part-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar